Langsung ke konten utama

OPINI: Purworejo Menangis

Purworejo Menangis
Oleh : Gunawan Handoko
Pemerhati masalah Sosial, tinggal di Bandar Lampung

BERITA melalui tayangan televisi dan media cetak serta media sosial telah cukup mewakili betapa porak-porandanya wilayah Jawa Tengah, khususnya kabupaten Purworejo saat ini. Sungai Bogowonto yang selama ini nampak tenang dan bersahabat, tiba-tiba saja murka dengan menghamburkan bah air seolah ingin menenggelamkan kota yang mendapat julukan kota pensiunan ini. Hujan pada Sabtu (18/06) yang hanya 2 jam lamanya telah berakibat banjir bandang. Belum lagi banjir bandang surut, bencana tanah longsor menimpa berbagai wilayah yang memakan korban jiwa meninggal dunia, sementara masih banyak kepala keluarga yang dinyatakan hilang dan masih dalam pencarian.

Purworejo menangis, semua datang secara tiba-tiba dan diluar dugaan. Pohon pun bertumbangan yang berakibat putusnya jalur transportasi jalur Selatan antara Jogjakarta ke Purwokerto dan sebaliknya. Ironis dan menyedihkan. Di saat mayoritas saudara kita sedang khusuk melaksakan ibadah Ramadhan dan berharap dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga dan sanak saudara, justru yang terjadi sebaliknya. Bencana alam tampaknya masih ingin mengakrabi bangsa ini. Beberapa tahun kebelakang, kehidupan di bumi Indonesia penuh warna derita, bencana hadir jalin-jemalin antara yang satu dengan lainnya. Semua tentu akibat ulah manusia yang terlalu tamak terhadap alam. Saya merasa ‘beruntung’ karena desa Gesikan kecamatan Kemiri, tempat saya dilahirkan ternyata terhindar dari bencana. Meski demikian, saya tetap merasakan ada benang merah yang tidak bisa di putus meski dalam gulungan kusut sekalipun.

Rasa ingin mengunjungi saudara-saudara disana begitu besar, meski pada akhirnya saya sadar bahwa mereka saat ini bukan hanya butuh kehadiran orang lain untuk sekedar menyampaikan bela sungkawa sambil mewek-mewek menangis, tanpa ada bantuan finansial yang ditinggalkan. Saya justru sedang berpikir untuk membangun komunikasi dengan para sedulur asal Purworejo yang tinggal di Lampung Sai Bumi Rua Jurai, guna menghimpun bantuan apa saja. Terlepas dari mana kita berasal, disinilah rasa dilematis seorang manusia di mulai. Siapapun akan merasa miris ketika menyaksikan kondisi ribuan manusia yang kehilangan rumah dan harus tidur ditenda-tenda darurat, masjid dan mushola. Dalam kondisi seperti ini, satu-satunya yang dibutuhkan adalah ketenangan dan kasih sayang, terlebih terhadap anak-anak dan mereka yang sudah manula. Juga memberikan mereka pelayanan kesehatan, makanan dan pendampingan dalam recovery mental.

Kita berharap penanganan bencana yang dilakukan pihak Pemerintah Daerah tidak gamang. Kalau hanya untuk sekedar menyalurkan bantuan kemanusiaan, tentu tidak harus menunggu laporan rinci dari para Camat seperti yang terjadi di berbagai daerah selama ini. Karena laporan dianggap masih mentah, maka pendistribusian bantuan pun terpaksa ditunda. Padahal korban bencana sudah menahan lapar berhari-hari. Kesigapan para petugas dalam penanganan bencana alam hanya terlihat hebat pada saat latihan atau simulasi, namun semua menjadi berantakan ketika bencana benar-benar terjadi. Hanya institusi TNI lah yang paling sigap dan terkoordinasi dengan baik setiap kali menangani bencana. Masih beruntung, masyarakat Jawa tidak serta merta protes, meski menjadi korban bencana. Sebagian besar lebih memilih pasrah dan meyakini bahwa semua ini terjadi karena dukaning Pangeran alias murkanya Tuhan atau peringatan Illahi kepada umat manusia. Hanya saja yang mereka sesalkan, mengapa setiap kali terjadi bencana, korban yang paling banyak justru di derita saudara kita yang masuk kategori sebagai ’yang lemah dan miskin’.

Bukankah pada kenyataan sehari-hari mereka tergolong makhluk yang paling suci, nrimo, tidak pernah ngapusi apalagi korupsi. Teori apapun, termasuk teoritisasi sastra-sosial yang percaya kepada marxisme tidak akan mampu menjelaskan mengapa mereka yang harus secara terus menerus menjadi pelengkap penderita? Hal lain yang membuat masyarakat Jawa tidak gelisah dengan hadirnya musibah, karena masih melekatnya kepercayaan pada filsafat Cokro Manggilingan, yakni mengibaratkan hidup ini seperti putaran roda, kadang berada di bawah dan kadang di atas. Saat terkena musibah, mereka menyadari bahwa posisi roda sedang dibawah yang suatu saat pasti akan berputar ke posisi atas. Paham tersebut terbukti sangat ampuh dan mampu memberi kekuatan batin, membangkitkan semangat dan harapan bahwa pada suatu saat roda akan berputar. Maka sepahit apapun penderitaan yang menimpa diri, selalu masih ada asa dalam menatap ke depan. Pada titik inilah kita pun perlu melakukan refleksi. Kebiasaan berlebih-lebihan dalam menyambut Idul Fitri di ubah dengan menyantuni para fakir miskin dan kaum mustahiq. Itulah makna dari ibadah puasa di bulan Ramadhan, bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, termasuk menjaga alam lingkungan tentu saja.

Saatnya kita berbenah dan berbersih diri serta memperlakukan alam ini secara arif dan bijak. Keangkuhan terhadap alam dengan unjuk gelar ilmu dan tehnologi hanya akan membuahkan malapetaka yang pada akhirnya harus dibayar mahal, seperti yang terjadi di Purworejo saat ini. Manakala sawah, hutan, rawa tidak lagi berfungsi sebagai pengendali air dan berubah dengan rumah-rumah beton dan kaca, maka sesungguhnya kita sedang menuju pada kehancuran. Benar bahwa Tuhan Maha Pemurah dengan menciptakan apa saja bagi umat-Nya, kecuali lahan. Tuhan tidak akan pernah menambah atau mengurangi lahan yang telah ada. (*)

Berita Populer

Senin, KPU Lampung Rapat Pleno, Salah Satunya Bahas Dugaan Kasus Jual Beli 'Kursi Komisioner KPU'

Bandarlampung - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lampung belum menerima tembusan atau laporan resmi tertulis terkait dugaan kasus jual beli 'kursi komisioner KPU' yang saat ini menjadi sorotan media dan publik. Dimana diduga kasus ini melibatkan oknum komisioner KPU.

"Ya akan kita pelajari secara komprehensif kebenarannya. Karena di KPU Lampung belum ada laporan resmi tertulis atau tembusan laporan, tetapi kita tetap mempelajarinya," kata Ketua KPU Lampung, Erwan Bustami melalui pesan whatsapp kepada setialampung.co.id, sabtu (9/11).

Saat ditanya apakah dirinya sudah mengkonfirmasi langsung kebenaran kasus ini kepada oknum komisioner KPU yang diduga terlibat jual beli kursi komisioner KPU tersebut, Erwan menuturkan, pihaknya sedang mempelajari kebenarannya secara komprehensif.

"Ya, kan lagi kita pelajari kebenaran secara komprehensif. Senin, KPU Lampung akan menggelar rapat pleno rutin dan salah satu pembahasan dalam pleno nanti adalah informasi pemberitaan ini,&quo…

Dinamika dan Tantangan Demokrasi di Indonesia Harus Dikelola dengan Baik

setialampung - Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, rabu (4/7/2018), memberi ceramah di hadapan para perwira TNI di Sekolah  Staf Komando TNI (Sesko TNI) di Bandung, Jawa Barat. Dalam ceramahnya, mantan sekretaris jenderal PDIP itu banyak mengulas soal dinamika dan tantangan demokrasi di tanah air.


Menurut Tjahjo, dalam setiap pelaksanaan demokrasi di mana juga, termasuk di Indonesia, pasti ada dinamikanya. Dinamika demokrasi mulai terasa ketika tibanya tahapan kontestasi politik. Dinamika paling terasa menguat ketika dimulainya tahapan pemilu legislatif dan pemilihan presiden pada 2014.

"Dinamika politik juga terasa ketika penyusunan untuk regulasi pilkada dimulai," kata Tjahjo.


Tjahjo memahami, dinamika terasa karena setiap partai berkepentingan terhadap kontestasi politik yang akan digelar. Tentu, ada tarik menarik kepentingan. Namun itu semua, demi untuk membangun sistem demokrasi di Indonesia. Tahun 2015, Indonesia berhasil menggelar hajatan pilkada serentak tahap pert…

2020, Dishub Bandarlampung Dapat Dana Alokasi Khusus Sebesar Rp2,2 Miliar dan Dana Pendamping Rp400 Jutaan

Bandarlampung - Dinas Perhubungan Bandarlampung di tahun 2020 mendapat bantuan dana alokasi khusus (DAK) sebesar Rp2,2 miliar dan dana pendamping lebih dari Rp400 juta.

"Dana alokasi khusus sebesar Rp2,2 miliar itu dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dana pendampingnya sebesar Rp400 jutaan," kata Kepala Dinas Perhubungan Bandarlampung, Ahmad Husna, usai hearing dengan komisi III DPRD Bandarlampung, selasa (12/11).

Husna menjelaskan, dana Rp2,2 miliar tersebut untuk alat uji kendaraan bermotor, seperti timbangan, rem, lampu dan emisi gas buang.

"Kemungkinan besar bantuannya dalam bentuk barang. Dana pendamping sebesar Rp400 jutaan diantaranya diperuntukkan bongkar pasang alat dan untuk biaya menyekolahkan (pendidikan) operator," ungkapnya. (ben)