OPINI: Ketika Mudik Menjadi Wahana Jihad

Ketika Mudik Menjadi Wahana Jihad
Oleh : Gunawan Handoko
Pemerhati Sosial, tinggal di Bandar Lampung


TRAGEDI amat mengenaskan yang menimpa para pemudik kembali terjadi. Jalan tol yang digadang-gadang mampu untuk menciptakan kelancaran dan kenyamanan, justru berubah menjadi jalur neraka. Pemudik terjebak kemacetan selama puluhan jam lamanya di wilayah Brebes Jawa Tengah yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia. Seperti biasa, saling membela diri dan saling melempar tanggungjawab pun dipertontonkan para pejabat kita. Meningkatnya jumlah kendaraan dan jumlah pemudik dijadikan alasan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan sebagai penyebab kemacetan, meski sesungguhnya masih ada alternatif lain untuk mengalihkan arus kendaraan. Bukankah masalah mudik ini sudah berlangsung puluhan tahun lamanya sehingga Pemerintah dapat memprediksi peningkatan jumlah pemudik dari tahun ke tahun? Saya bukan hendak ikut-ikutan mendesak para Menteri terkait untuk mengundurkan diri sebagai konskwensi atas kegagalan dalam mengemban tugas, karena budaya mundur bukan tradisi di Negara kita. Yang pasti sampai kapan pun tradisi mudik tidak mungkin dapat dihentikan. Inilah salah satu budaya asli bangsa Indonesia yang tidak akan ditemui di belahan negara mana pun, termasuk tradisi halal bihalal atau saling mema’afkan.

Mudik merupakan kearifan lokal yang sengaja diciptakan para pendahulu atau para wali untuk membuat tradisi setelah Ramadan diadakan acara silaturahmi. Para wali berkeyakinan bahwa acara halalbihalal bisa menjadi resolusi konflik antar umat. Budaya mudik secara sosiologis telah identik dengan lebaran Idul Fitri yang berfungsi sebagai pelestari identitas kaum muslim untuk saling berma’afan sekaligus menjadi alternatif untuk melepas kerinduan tentang masa-masa awal membangun jatidiri di daerah asal. Benar bahwa kegiatan mudik dapat dianggap sebagai aktivitas sosial yang negatif, tidak produktif dan hanya menghamburkan biaya, baik bagi pemudik maupun instansi Pemerintah yang menangani masalah ketertiban, keamanan dan pelayanan publik. Namun ada penafsiran lain yang menilai bahwa aktifitas mudik termasuk ’jihad’ yang hal tersebut mendapatkan legitimasi dalam perspektif teologi, meski banyak pihak yang menganggap sebagai hal yang mengada-ada. Ada yang menafsirkan bahwa jihad adalah upaya pengerahan totalitas seseorang untuk kebaikan, maka mudik menjadi media jihad yang lebih emansipatoris, berpihak kepada upaya-upaya transformasi individu dan sosial dalam tiga cara pandang.

Pertama, pemudik menganggap bahwa langkahnya tersebut suatu kewajiban untuk berterima kasih dalam menjalani perjalanan hidup. Artinya, mudik bukan sekadar bertemu keluarga, tetapi fitrah untuk mengingat kembali darimana asal sebelum mendapatkan kehidupan. Mudik akan menyadarkan bahwa selain kepada Tuhan, kepada orang tua pun mesti mengucapkan terima kasih karena telah memberikan kehidupan melalui jerih payahnya dalam membekali potensi sehingga mampu meraih ’sumber kehidupan’ masa depan. Ajaran Islam memang menempatkan posisi orangtua persis di bawah Tuhan. Secara fungsional Islam mengatur penghambaan manusia terhadap Allah dan penghormatan manusiawinya dimanifestasikan terhadap orangtua. Dalam konsep ini, kecintaan kepada orang tua, daerah dan bangsa dimanifestasikan sebagai etos dan kekuatan yang akan digunakan untuk menolak ancaman yang datang dari luar, sehingga antara satu daerah dengan daerah yang lain saling menguatkan.

Diyakini bahwa para pemudik akan merasakan beban psikologis ketika menyaksikan berbagai kenyataan di daerah asal yang pada akhirnya akan memberi tugas serius bagi para pemudik untuk ikut membantu melanjutkan pembangunan daerah berdasarkan karakteristik wilayah dan kultur masyarakat lokal sesuai pengalaman di perantauan.
Dengan demikian akan sangat produktif jika mudik juga dikampanyekan sebagai wahana jihad untuk melawan kebodohan, kesenjangan, kemiskinan dan kerawanan sosial. Karena sesungguhnya berbagai alternatif atas permasalahan tersebut adalah dengan menumbuhkan rasa kebersamaan dan adanya transfer pengalaman serta kesetiakawanan masyarakat yang tentunya dapat di dorong oleh para pemudik yang telah berinteraksi dengan kemajuan jaman di perantauan. Mudik adalah kembali merenungi asal muasal kehidupan sehingga dapat melahirkan kearifan sosial dan lingkungan, mendukung perlindungan alam sehingga terjadi keseimbangan hidup yang harmonis. Dan kesemuanya akan berujung pada kepuasan untuk menyenangkan orang lain dengan langkah praksis transformasi fungsi etis agama. Sehingga muncullah jawaban bahwa yang dicari para pemudik adalah nilai spiritualitas untuk menegakkan prinsip-prinsip keadilan Tuhan dengan
upaya penghapusan kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, dan kerawanan sosial.

Semoga budaya mudik tetap dalam bingkai kepedulian dan solidaritas sosial, tanpa ada muatan untuk tujuan pragmatisme individual dengan menunjukkan jatidiri dan status sosial pemudik berkaitan dengan prestasi, jabatan, gelar, kendaraan, harta, dan label materi lainnya. Sifat itulah yang tak jarang ikut hadir sebagai bagian yang turut memperkuat alasan mengapa harus mudik. (*)
Share:

SMSI LAMPUNG

SMSI LAMPUNG

Berita Populer

Recent Posts

Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed

Arsip Blog