Merajut Kembali Kesetiakawanan Sosial Karang Taruna

Oleh: Gunawan Handoko
Majelis Pertimbangan Karang Taruna (MPKT) Provinsi Lampung,
Mantan Sekretaris Umum Karang Taruna Provinsi Lampung

Sejak kelahirannya 56 tahun lalu, tepatnya 26 September 1980 di Kampung Melayu Jakarta, organisasi karang taruna (KT) tumbuh dan berkembang demikian pesatnya, baik jumlah maupun programnya. Kelahiran karang taruna dapat dimaknai sebagai gerakan dan semangat kepedulian generasi muda untuk turut serta mencegah dan menanggulangi masalah kesejahteraan sosial, khususnya yang dihadapi oleh anak dan remaja dilingkungannya. Hingga saat ini keberadaan organisasi karang taruna dinyatakan telah purna di seluruh desa/kelurahan atau komunitas sederajat di Indonesia.
Dengan mengusung slogan kesetiakawanan dan solidaritas sosial, organisasi KT memiliki peran yang cukup penting sebagai perekat dan pemersatu kaum muda. Memasuki situasi krisis yang dihadapi bangsa Indonesia pada tahun 1997, secara langsung turut berdampak menurunnya dan bahkan terhentinya aktivitas sebagian besar KT. Sejalan dengan dihapusnya departemen sosial RI pada era pemerintahan Gus Dur, KT seperti anak ayam yang kehilangan induk. Lebih celaka lagi, diera reformasi saat itu sempat muncul dua pedoman dasar karang taruna, yakni yang ditetapkan dengan keputusan menteri sosial RI dan pedoman dasar karang taruna Indonesia sebagai hasil temu karya nasional IV tahun 2001 di Medan.

Akibatnya pemahaman tentang karang taruna dikalangan internal sendiri berbeda -beda. Atas kesadaran semua pihak, akhirnya KT dapat menyamakan pandangan yang satu melalui temu karya nasional V tahun 2005 di Banten. Bertepatan dengan peringatan hari jadi ke 56 tahun 2016, pengurus KT Lampung menggelar temu karya KT ke VI yang merupakan ajang konsolidasi akbar untuk melakukan evaluasi program sekaligus memilih kepengurusan untuk masa bhakti 5 tahun ke depan.

Jujur harus diakui bahwa di era tahun 90-an, keberadaan organisasi KT di Lampung mendapat penilaian baik di tingkat nasional diantara provinsi lain di Indonesia. Bahkan sempat mendapat kepercayaan sebagai penyelenggara Bulan Bhakti Karang Taruna (BBKT) tingkat Nasional yang dihadiri langsung oleh Presiden Soeharto waktu itu. Kita semua tahu, di masa itu tentu bukan hal yang mudah untuk menghadirkan seorang Kepala Negara, perlu seleksi yang berlapis-lapis. Belakangan harus diakui, gemerlap cahaya KT di Lampung terlihat meredup (baca: kemunduran), bahkan nyaris mengalami stagnasi. Hal ini bisa dipahami, mengingat kepedulian Pemerintah terhadap organisasi KT juga semakin menipis. Ada yang terlupakan oleh Pemerintah pasca tumbangnya orde baru (Orba) sampai sekarang, dimana Pemerintah tidak secara profesional menanamkan semangat kesetiakawanan dan solidaritas sosial bagi kalangan kaum muda, khususnya KT yang memiliki basis massa di tingkat desa.

Di masa Orba, pembinaan generasi muda terlihat jelas dan berkesinambungan, bahkan keberadaan organisasi KT tertuang dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) bersama dengan Pramuka, KNPI dan OSIS serta organisasi lainnya. Pemerintah pun secara berkesinambungan menyelenggarakan Pendidikan dan latihan Bela Negara. KT sebagai organisasi sosial non partisan yang tidak membeda-bedakan suku, agama, latar belakang sosial dan pandangan politik, sesungguhnya merupakan ujung tombak yang maha dahsyat sebagai perekat dan pemersatu kaum muda. Terlebih dengan sistem keanggotaan stelsel pasif, dimana setiap remaja dan generasi muda usia 11 – 35 tahun secara otomatis sebagai anggota KT. Apabila Pemerintah dapat mengelola dan memberdayakan organisasi KT secara sungguh-sungguh, paling tidak akan meminimalisir munculnya konflik yang akhir-akhir ini sering terjadi, seperti ’perang’ antar suku, antar kampung, tawuran antar sekolah dan lainnya karena semua telah tertanam rasa kesetiakawan sosial, bahwa mereka bersaudara.

Hari ini perlu pengakuan secara jujur bahwa kita telah banyak kehilangan jati diri bangsa. Semangat persatuan dan kesetiakawanan yang dilandasi budi pekerti luhur, sabar, ramah dan santun telah tercerabut dari akar peradabannya. Itulah sesungguhnya jati diri yang telah terpatri dan dimiliki rakyat Indonesia dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tidak terlalu aneh memang, karena selama ini kaum muda lebih asyik dalam dunia politik praktis, bahkan KT sering terjebak didalamnya.

Temu Karya ke VI KT provinsi Lampung ini hendaknya menjadi momentum kebangkitan KT di Sai Bumi Rua Jurai, kembali ke khitah kelahirannya sebagai pelopor pembangunan di bidang kesejahteraan sosial dengan dilandasi semangat kesetiakawanan dan solidaritas sosial. Betapapun menariknya dunia politik, organisasi KT harus tetap konsisten untuk tidak terlibat atau sengaja melibatkan diri didalamnya. KT tidak dimana-mana, namun harus ada dimana-mana. Reformasi hendaknya jangan diartikan sebagai penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil diwaktu yang lalu untuk kemudian dibangun suatu sistem baru yang tidak lagi berbau ’masa lalu’. Kini, saatnya kita kobarkan kembali semangat kesetiakawanan dan solidaritas sosial, tanpa menonjolnya kepentingan individu, kedaerahan, dan juga kepentingan kelompok. Semoga Temu Karya yang sedang dilaksanaan oleh keluarga besar KT di provinsi Lampung ini akan mampu mengembalikan kejayaan KT yang pernah di raih di masa lalu.
Dirgahayu Karang Taruna, Aditya Karya Mahatva Jodha!!!
Share:

SMSI LAMPUNG

SMSI LAMPUNG

Berita Populer

Recent Posts

Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed