Gawat, Pasokan Daya Listrik PLN Lampung Sudah Kronis

Cakrawala Lampung (CL) - Penurunan debit air dan gangguan dibeberapa pembangkit tenaga listrik masih menjadi alasan PLN Lampung melakukan pemadaman bergilir. DM Hukum dan Humas PT. PLN (PERSERO) Distribusi Lampung, I Ketut Darpa
dalam siaran pers yang diterima cakrawalalampung.com, Selasa (6/10) mengatakan, sejak Jumat (25/9) sampai hari ini Provinsi Lampung mengalami defisit daya sangat besar. Yakni berkisar 80 MW antara siang dan malam. Sehingga pengurangan beban terpaksa dilakukan.

Dia menjelaskan, penyebab dari defisit di Lampung adalah berkurangnya kemampuan daya PLTA (PLTA Batu Tegi dan Besai) yang ada di Lampung karena debit air yang berkurang akibat pengaruh kemarau panjang. Selain itu, ini juga dikarenakan transfer daya dari sistem Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) berkurang.

"Pada saat normal, transfer waktu siang berkisar 200-250 MW. Saat ini rata rata yang bisa ditransfer hanya berkisar 146-208 MW. Di malam hari pada saat normal transfer bisa mencapai sebesar 342 MW. Namun saat ini rata rata yang bisa ditransfer hanya berkisar 228-290 MW," ujarnya.

Dia mengungkapkan, ada 4 hal penyebab transfer daya berkurang. Yang pertama Pembangkit Listrik Tenaga Air tidak optimal karena musim panas yang berkepanjangan. Kedua, pembangkit listrik tenaga gas tidak optimal karena kabut asap yang terjadi di Sumatera Bagian Tengah dan Selatan yang menyebabkan filter inlet mengalami gangguan. Sehingga menyebabkan penurunan daya mampu pembangkit dan beberapa pembangkit gas mengalami gangguan. Ketiga, pemeliharaan beberapa pembangkit diantaranya PLTU Bukit Asam 1 dan 2, PLTG keramasan 2 dan 3, Kemudian penyebab yang keempat yakni beberapa pembangkit mengalami gangguan diantaranya PLTU IPP Banjarsari 1, dan PLTG Talang Duku 2, Borang 1 dan 2, Indralaya dan gunung Megang.

Dijelaskannya, daya mampu pembangkit Lampung dan transfer dari Sumatera Selatan dalam kondisi normal rata-rata sekitar 865 MW (dengan pasok pembangkit sebesar 540 MW dan transfer sebesar 325 MW) dan beban puncak tertinggi yang pernah tercapai sebesar 854 MW sehingga terdapat surplus sebesar 11 MW.

“Agar pasokan listrik Lampung handal, maka perlu ada cadangan minimal sebesar pembangkit terbesar di Lampung yaitu 100 MW. Dan untuk mencapai keandalan yang cukup maka dibutuhkan cadangan pembangkit sebesar 30 % dari beban puncak atau sekitar 256 MW. Kondisi tersebut sesuai dengan RUPTL yang ditetapkan akan tercapai sekitar tahun 2019,” ungkapnya.

Sebagai gambaran kondisi defisit pada Selasa (29/9), ungkap dia lagi, beban puncak malam saat ini sebesar 815 MW, sedangkan kemampuan pembangkit dan transfer mengalami penurunan pembangkit sekitar 446 MW, transfer sumsel maksimal sekitar 290 MW. Sehingga mengalami defisit saat beban puncak malam sekitar 79 MW.

Kondisi beban siang hari saat ini sekitar 579 MW, sedangkan daya mampu pembangkit dan transfer mengalami penurunan pembangkit sekitar 354 MW, transfer sumsel sekitar 146 MW, sehingga mengalami defisit saat beban siang sekitar 79 MW. Dengan defisit tersebut maka terjadi pengurangan beban pagi, siang dan malam untuk menjaga kestabilan sistem sehingga tidak terjadi black out atau pemadaman total.

“Upaya-Upaya yang dilakukan PLN jangka pendek adalah mempercepat perbaikan pembangkit yang
terganggu dan mempercepat proses pemeliharaan. Sehubungan dengan belum normalnya suplai listrik tersebut, kami menghimbau kepada seluruh pelanggan agar menggunakan listrik dengan hemat dan seperlunya untuk menjaga kestabilan pasokan listrik terutama pada saat beban puncak jam 17.00 s/d 22.00 WIB. Kami segenap Manajemen PLN Distribusi Lampung memohon maaf kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang dirasakan akibat dari pemadaman listrik yang terjadi pada beberapa waktu terakhir,” pungkasnya. (ben)
Share:

SMSI LAMPUNG

SMSI LAMPUNG

Berita Populer

Recent Posts

Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed

Arsip Blog