OPINI: Grahatama, Bukan Perpustakaan Biasa

Catatan Lepas Gunawan Handoko.
Ketua Harian Komunitas Minat Baca Indonesia Provinsi Lampung

KETIKA bicara tentang Perpustakaan, yang terbayang oleh kita adalah sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat sederet rak dengan jajaran buku-buku. Sejalan dengan perkembangan jaman, fungsi perpustakaan harus mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi sekaligus sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat luas. Perpustakaan juga harus mampu menjadi pintu gerbang bagi manusia dalam mencapai derajat yang tinggi melalui pengetahuan yang terkandung dalam berbagai koleksi perpustakaan tersebut.

Waktu menujukkan pukul 9.00 WIB pagi saat saya memasuki pintu gerbang gedung Grahatama Pustaka. Perpustakaan yang terletak di jalan Banguntapan Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Perpustakaan yang letaknya tepat bersebelahan dengan Gedung JEC ini nampak gagah dan kokoh dengan tampilan 4 pilar yang berdiri tegak menjulang tinggi ke atas. Bangunan yang berdiri diatas lahan seluas 2,4 Hektar ini dilengkapi dengan 3 kantong parkir out door dan 1 basement, sehingga pengunjung tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat parkir. Arsitektur bangunannya pun cukup unik, sebagai core bangunan tersebut terdapat open space dengan langit terbuka. Dengan konsep tersebut pada siang hari cahaya matahari dengan leluasa masuk ke dalam gedung untuk membantu pencahayaan. Dinding-dindingnya sebagian besar menggunakan kaca.

Selain nampak modern, cahaya juga tetap dapat masuk ke dalam ruangan. Inilah salah satu perwujudan dari bentuk arsitektur modern sebuah ekosistem perpustakaan masa kini. Bentuk bangunan tersebut sudah cukup mewakili keinginan dan prestise kota Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota yang konsisten untuk melestarikan kebudayaannya.
Jujur, saya kagum dengan desain bangunan tersebut, sampai saya hampir lupa bila pagi itu sedang nyambi mengawal cucu yang merengek-rengek minta di ajak kemari. Masuk melalui pintu bagian belakang, beberapa personil dari Badan Perpustakaan Daerah DIY menyambut dan menyapa dengan ramah sambil mempersilahkan untuk mengisi data pengunjung pada komputer yang tersedia.

Agenda kunjungan pun di mulai, diawali dengan memasuki ruang bercerita anak-anak. Ruangan yang tidak terlalu lebar tersebut di tata dengan apik dan dekorasi dinding dengan warna sedikit menor, sesuai dengan selera anak. Terdapat panggung kecil lengkap dengan media cerita berupa wayang yang menggambarkan manusia dan aneka jenis binatang. Para pengunjung dan juga anak-anak bebas untuk berekspresi dengan menggunakan media tersebut. Beberapa fasilitas lain adalah Ruang Teater, Ruang Audio Visual serta Bioskop 6 Dimensi (6D). Konon bioskop 6D ini yang merupakan fasilitas unggulan dan belum dimiliki oleh Perpustakaan manapun di Indonesia. Saat film di putar, pengunjung dapat menikmati dan merasakan sensasi yang berbeda karena ke lima panca indera penonton dapat menikmati efek dari adegan demi adegan dalam film.

Bagaimana dengan koleksi buku-buku yang ada? Perpustakaan Grahatama memiliki sekitar 46.000 judul buku. Juga terdapat 7.500 judul yang merupakan koleksi langka dan sejumlah naskah kuno yang telah rapuh dan saat ini masih diupayakan alih media menjadi bentuk digital. Untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung, pihak pengelola melakukan pemisahan ruangan antara buku koleksi umum dan koleksi anak-anak. Selain itu disiapkan out door yang cenderung sepi sehingga sangat nyaman bagi para mahasiswa atau siapa saja untuk berdiskusi atau mengerjakan tugas. Hal yang menarik, perpustakaan ini menyediakan akses bagi para penyandang disabilitas. Selain disiapkan koleksi buku dan huruf braille, juga disiapkan komputer bersuara bagi para tuna netra sehingga tidak menutup kesempatan bagi penyandang tuna netra untuk menimba ilmu dan informasi.

Bagaimana dengan Perpustakaan Lampung?
Beberapa waktu lalu gubernur Lampung menyatakan niatnya untuk membangun gedung perpustakaan. Tidak tanggung-tanggung, gubernur menyiapkan anggaran sebesar Rp100 miliar agar perpustakaan tersebut nantinya lebih megah di banding perpustakaan milik pemerintah provinsi Riau, dan menjadi the best library di Indonesia. Ini dalam upaya menumbuhkan minat baca. Angka tersebut jauh lebih besar dari biaya untuk membangun perpustakaan Grahatama Yogyakarta yang hanya Rp72,50 miliar. Hal yang penting untuk menjadi perhatian dan kajian Pemerintah Provinsi Lampung adalah masalah lokasi dimana perpustakaan tersebut akan didirikan, dengan memperhatikan zona kawasan pendidikan, sehingga mudah di akses oleh kalangan pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum. Dengan dana sebesar Rp 100 miliar tersebut jika direncanakan dengan baik dan matang, nantinya dapat mewujudkan sebuah perpustakaan yang tidak hanya terbaik di Indonesia namun terbaik se Asia.

Barangkali inilah saatnya bagi kita untuk berbuat menuju perubahan diera kepemimpinan Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. Merubah pemikiran kita semua bahwa menjadikan pendidikan yang berkualitas kepada bangsa ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Setiap dari kita dapat mulai berbuat sesuai dengan peran masing-masing, untuk selanjutnya bersinergi. Hal yang tidak kalah penting, Pemprov Lampung tidak perlu curiga yang berlebihan manakala ada elemen dan lembaga masyarakat yang memiliki niat tulus untuk bekerjasama dan bersinergi demi suksesnya program.

Dengan melibatkan elemen masyarakat di dalam proses perencanaan, siapa tahu ada hal positif yang bisa di petik, termasuk konsep-konsep pengelolaan guna mewujudkan perpustakaan yang representatif, serta sesuai dengan harapan masyarakat. Jangan hanya gedungnya saja yang megah dan berkesan agung adilihung, namun fasilitas yang ada perlu perencanaan yang matang sehingga memiliki daya tarik bagi para pengunjung. Rasanya sangat lucu sebuah provinsi yang memiliki visi dan misi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sementara tidak di dukung dengan gedung perpustakaan yang memadai. (*)
Share:

SMSI LAMPUNG

SMSI LAMPUNG

Berita Populer

Recent Posts

Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed