​Polres Lambar Gelar Mediasi Sengketa Jual Beli Lahan Adat

setialampung.com - Kepolisian Resort Lampung Barat memediasi masalah jual beli salah satu lahan adat di Desa Ngaras, Kecamatan Bengkunat, Pesisir Barat, antara Usman dengan salah satu marga setempat. Mediasi sengketa lahan sekitar 50 hektar ini dihadiri kuasa hukum salah satu marga, Edwin Hanibal, pembeli lahan Usman, Kapolresta Lambar dan jajarannya, Selasa (2/8).
Di dalam proses mediasi tersebut Usman mengatakan, proses jual beli lahan
dilakukannya sesuai kesepakatan. Karena disaksikan kepala desa dan camat setempat.

Dia menceritakan, sebelumnya lahan yang akan dibelinya seluas 60 hektar. Namun setelah dilakukan pengukuran hanya terdapat sekitar 50 hektar. Dimana lahan tersebut dibeli saat dirinya bertemu dengan Kulin, salah satu warga setempat.

"Saya membeli tanah tersebut melalui Kulin dan pernah disaksikan oleh kepala desa dan camat setempat. Setelah saya beli, lahan itu saya bikinkan sertifikatnya melalui BPN," ujarnya.

Bahkan, lanjutnya, pernah dilakukan pesta adat dengan melakukan pemotongan seekor sapi. Dan hal ini juga disaksikan kepala desa/lurah, camat dan marga adat setempat.

"Saya melihat dan mendapat informasi lahan yang dijual itu dari Kulin. Rencananya lahan tersebut mau dijadikan kolam tambak. Kami siap untuk diuji sertifikatnya dan diperiksa," katanya.

Di tempat yang sama, kuasa hukum salah satu marga, Edwin Hanibal menegaskan, lahan yang dibeli Usman tersebut merupakan lahan salah satu adat setempat.

Menurut Edwin, masalah sengketa lahan ini muncul sejak tahun 2006. Masalah ini diduga akibat ulah Kulin Cs yang diduga sudah menjual lahan milik adat.

"Kulin itu bukan pemilik lahan adat yang sah. Tapi kenapa Pak Usman membeli lahan tersebut melalui Kulin. Sedangkan lahan itu merupakan lahan ulayat. Seharusnya sebelumnya membeli lahan harus jelas siapa subyek dan obyeknya yang sah," sesalnya. (ben)
Share:

SMSI LAMPUNG

SMSI LAMPUNG

Berita Populer

Recent Posts

Twitter Facebook Google Plus Instagram Youtube Linkedin RSS Feed