12 Juli 2019

AJI Bandarlampung Sesalkan Oknum Wartawan Disebut Terima Proyek Senilai Rp6,8 Miliar


setialampung.co.id - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandarlampung menyesalkan perilaku oknum wartawan yang diduga bermain proyek. Hal ini menanggapi persidangan perkara dugaan suap fee proyek Mesuji yang menyebut beberapa nama jurnalis yang diduga menerima proyek.

“Seyogyanya mereka tidak ikut, apalagi sampai terlibat. Sebaliknya, wartawan mesti mengawasi pelaksanaan sebuah proyek agar tidak menyimpang, terlebih itu memakai uang rakyat,” kata Ketua AJI Bandarlampung Hendry Sihaloho melalui rilisnya, jumat (12/7).

Menurut Hendri, oknum jurnalis yang main proyek bukan saja mencoreng profesi pewarta, tapi juga melanggar kode etik jurnalistik (KEJ). Dalam pasal 6 KEJ disebutkan, wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap. Penafsirannya, menyalahgunakan profesi yakni segala tindakan yang mengambil keuntungan pribadi atas informasi yang diperoleh saat bertugas sebelum informasi tersebut menjadi pengetahuan umum. Sedangkan suap adalah segala pemberian dalam bentuk uang, benda atau fasilitas dari pihak lain yang mempengaruhi independensi.

“Kami memandang oknum wartawan yang main proyek, memeras, atau perbuatan tak patut lainnya tidak menghormati pekerjaannya. Ia justru melecehkan profesinya. Tindakan demikian semakin memperburuk citra wartawan di masyarakat. Padahal, kita yang bekerja sebagai juru warta punya tanggungjawab secara moral untuk memperbaiki 'image' buruk tersebut,” kata Hendry.

Dalam elemen-elemen jurnalisme, elemen yang kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Artinya, ketika wartawan melaksanakan tugasnya, ia memposisikan diri sebagai pemantau kekuasaan. Analoginya sederhana, karena kekuasaan itu cenderung korup, maka mesti dipantau. Jurnalis seharusnya menjalankan mandat ini, bukan malah 'berselingkuh' dengan kekuasaan, seperti main proyek. Lebih dari itu, memantau kekuasaan bagian dari upaya memperkuat demokrasi.

“Kami mengimbau teman-teman wartawan untuk bekerja profesional sesuai KEJ. Mari bersama-sama menjaga muruah dan independensi sebagai jurnalis. Inilah saatnya membangun kredibilitas dan integritas sebagai juru warta,” kata dia.

Sebelumnya, dalam persidangan perkara dugaan suap fee proyek Mesuji di PN Tipikor Tanjungkarang, kamis (11/7), terungkap oknum wartawan salah satu surat kabar harian di Lampung menerima 3 proyek senilai Rp6,8 miliar. Hasil plotting proyek diberikan kepada yang bersangkutan untuk menghilangkan sorotan dari media. (*)

Label: , , ,